Belajar Pengertian, Macam-Macam Majas dan Contohnya dengan Cepat dan Mudah

Fokus utama postingan ini akan mengajak kamu semua untuk mengetahui pengertian majas dan memahami macam-macam majas beserta contoh-contohnya dengan mudah dan cepat. Kamu, nantinya dapat menjawab dengan benar semua pertanyaan pada soal-soal yang berkaitan dengan majas, sehingga kamu bisa berhasil mendapatkan nilai sempurna untuk mata pelajaran Bahasa Indonesia. Mari belajar.

Apa sih sebenernya majas itu ?

Secara sederhana wikipedia menjelaskan bahwa, majas atau gaya bahasa, adalah pemanfaatan kekayaan bahasa untuk membuat sebuah karya sastra menjadi lebih hidup dan menghasilkan efek-efek tertentu. Majas juga menjadi keseluruhan ciri bahasa khas, yang selalu digunakan para penulis sastra untuk menyampaikan pikiran dan perasaan, baik secara lisan maupun tertulis. Puisi yang dibuat oleh penulis sastra umumnya lebih banyak mengandung atau menggunakan majas.

Sampai disini, apakah sudah jelas semua ? jika belum ? mari kita perjelas lagi. Majas, adalah salah satu materi wajib dalam mata pelajaran Bahasa Indonesia yang sangat perlu dipelajari oleh semua siswa-siswi SD, SMP, dan SMA atau SMK. Para siswa dan siswi dapat dengan mudah menemukan keindahan atau arti ketika menikmati sebuah karya sastra, baik secara lisan maupun dalam bentuk tulisan.

Lebih keren lagi, mereka yang serius belajar untuk memahami majas, nantinya tidak akan menemukan banyak kesulitan ketika ingin membuat sebuah karya sastra seperti prosa, pantun, syair, sajak, atau bahkan puisi.

Seru sekali bukan ? Nah, mari kita mulai pelajaran, dengan belajar mengetahui jenis atau macam-macam majas terlebih dahulu. Majas dibagi menjadi :

  • Majas perbandingan
  • Majas sindiran
  • Majas penegasan
  • Majas pertentangan

Nah, masing-masing majas tersebut dibagi lagi ke dalam beberapa jenis atau macam, diantaranya sebagai berikut.

Majas perbandingan terbagi menjadi 24 jenis, diantaranya sebagai berikut :

Alegori: Menyatakan dengan cara lain, melalui kiasan atau penggambaran.

Contoh: Perjalanan hidup manusia seperti sungai yang mengalir menyusuri tebing-tebing, yang kadang-kadang sulit ditebak kedalamannya, yang rela menerima segala sampah, dan yang pada akhirnya berhenti ketika bertemu dengan laut.

Alusio: Pemakaian ungkapan yang tidak diselesaikan karena sudah dikenal.

Contoh: Perjalanan cinta ana dengan ali terinspirasi dari kisah cinta ali dan fatimah.

Simile: Pengungkapan dengan perbandingan eksplisit yang dinyatakan dengan kata depan dan penghubung, seperti layaknya, bagaikan, umpama, ibarat, dll.

Contoh: Kau umpama air aku bagai minyaknya, bagaikan Qais dan Laila yang dimabuk cinta berkorban apa saja.

Metafora: Gaya Bahasa yang membandingkan suatu benda dengan benda lain karena mempunyai sifat yang sama atau hampir sama.

Contoh: Cuaca mendung karena sang raja siang enggan menampakkan diri.

Antropomorfisme: Metafora yang menggunakan kata atau bentuk lain yang berhubungan dengan manusia untuk hal yang bukan manusia.

Contoh: Mulut gua itu sangat sempit

Sinestesia: Majas yang berupa suatu ungkapan rasa dari suatu indra yang dicurahkan lewat ungkapan rasa indra lainnya.

Contoh: Dengan telaten, Ibu mengendus setiap mangga dalam keranjang dan memilih yang berbau manis. (Bau: indera penciuman, Manis: indera pengecapan)

Antonomasia: Penggunaan sifat sebagai nama diri atau nama diri lain sebagai nama jenis.

Contoh: Kalo mereka macam-macam! Biar si gendut saja nanti yang menghadapinya.

Aptronim: Pemberian nama yang cocok dengan sifat atau pekerjaan orang.

Contoh: Karena sehari-hari ia bekerja sebagai tukang becak, ia dipanggil Andi Becak.

Metonimia: Pengungkapan berupa penggunaan nama untuk benda lain yang menjadi merek, ciri khas, atau atribut.

Contoh: Karena sering menghisap jarum, dia terserang penyakit paru-paru.(Rokok merek Djarum)

Hipokorisme: Penggunaan nama timangan atau kata yang dipakai untuk menunjukkan hubungan karib.

Contoh: Lama Otok hanya memandangi ikatan bunga biji mata itu, yang membuat Otok kian terkesima.

Litotes: Ungkapan berupa penurunan kualitas suatu fakta dengan tujuan merendahkan diri.

Contoh: Terimalah kado yang tidak berharga ini sebagai tanda terima kasihku.

Hiperbola: Pengungkapan yang melebih-lebihkan kenyataan sehingga kenyataan tersebut menjadi tidak masuk akal.

Contoh: Gedung-gedung perkantoran di kota-kota besar telah mencapai langit.

Personifikasi: Pengungkapan dengan menggunakan perilaku manusia yang diberikan kepada sesuatu yang bukan manusia.

Contoh: Hembusan angin di tepi pantai membelai rambutku.

Depersonifikasi: Pengungkapan dengan tidak menjadikan benda-benda mati atau tidak bernyawa.

Contoh: Seandainya kamu bunga, aku akan jadi tangkainya

Pars pro toto: Pengungkapan sebagian dari objek untuk menunjukkan keseluruhan objek.

Contoh: Sejak kemarin dia tidak kelihatan batang hidungnya.

Totem pro parte: Pengungkapan keseluruhan objek padahal yang dimaksud hanya sebagian.

Contoh: Indonesia bertanding voli melawan Thailand.

Eufimisme: Pengungkapan kata-kata yang dipandang tabu atau dirasa kasar dengan kata-kata lain yang lebih pantas atau dianggap halus.

Contoh: Dimana saya bisa menemukan kamar kecilnya?

Disfemisme: Pengungkapan pernyataan tabu atau yang dirasa kurang pantas sebagaimana adanya.

Contoh: Apa kabar, Roni? (Padahal, ia sedang bicara kepada bapaknya sendiri)

Fabel: Menyatakan perilaku binatang sebagai manusia yang dapat berpikir dan bertutur kata.

Contoh: Kucing itu berpikir keras, bagaimana cara terbaik untuk menyantap tikus di depannya.

Parabel: Ungkapan pelajaran atau nilai tetapi dikiaskan atau disamarkan dalam cerita.

Contoh: Dongeng”Si Malin Kundang”.

Perifrasa: Ungkapan yang panjang sebagai pengganti ungkapan yang lebih pendek.

Contoh: Ia telah beristirahat dengan damai.

Eponim: Menjadikan nama orang sebagai tempat atau pranata.

Contoh: Anak tuan rumah yang kecantikannya khas Cleopatra itu juga mencintai saya.

Simbolik: Melukiskan sesuatu dengan menggunakan simbol atau lambang untuk menyatakan maksud.

Contoh: Ia terkenal sebagai buaya darat.

Asosiasi: majas yang membandingkan sesuatu dengan keadaan lain karena persamaan sifat.

Contoh: Wajahnya bagai pinang dibelah dua.

Majas sindiran terbagi menjadi 5 jenis, diantaranya sebagai berikut :

Ironi: Sindiran dengan menyembunyikan fakta yang sebenarnya dan mengatakan kebalikan dari fakta tersebut.

Contoh: Suaramu merdu seperti kaset kusut.

Sarkasme: Sindiran langsung dan kasar.

Contoh: Kamu tidak dapat mengerjakan soal yang semudah ini? Dasar otak udang isi kepalamu!

Sinisme: Ungkapan yang bersifat mencemooh pikiran atau ide bahwa kebaikan terdapat pada manusia (lebih kasar dari ironi).

Contoh: Kamu kan sudah pintar ? Mengapa harus bertanya kepadaku ?

Satire: Ungkapan yang menggunakan sarkasme, ironi, atau parodi, untuk mengecam atau menertawakan gagasan, kebiasaan, dll.

Contoh: Kamu kan sudah pintar ? Mengapa harus bertanya kepadaku ?

Innuendo: Sindiran yang bersifat mengecilkan fakta sesungguhnya.

Contoh: Kamu kan sudah pintar ? Mengapa harus bertanya kepadaku ?

Jenis-jenis pada majas penegasan juga berjumlah sangat banyak, bahkan lebih banyak dari majas perbandingan :

Apofasis: Penegasan dengan cara seolah-olah menyangkal yang ditegaskan.

Contoh: Terima kasih atas kebaikanmu selama ini. Tetapi maaf, penipuan yang kamu lakukan membuatku tidak percaya lagi padamu.

Pleonasme: Menambahkan keterangan pada pernyataan yang sudah jelas atau menambahkan keterangan yang sebenarnya tidak diperlukan.

  • Contoh: Saya naik tangga ke atas.

Repetisi: Perulangan kata, frasa, dan klausa yang sama dalam suatu kalimat.

Contoh: Dia pasti akan datang, dan aku yakin, dia pasti akan datang ke sini.

Pararima: Pengungkapan dengan menggunakan kata, frasa, atau klausa yang sejajar.

Contoh: Dari balik bilik, dadaku bergetar getir.

Aliterasi: Pengungkapan dengan menggunakan kata, frasa, atau klausa yang sejajar.

Contoh: Cicak itu, cintaku, berbicara tentang kita, yaitu nonsens.

Paralelisme: Pengungkapan dengan menggunakan kata, frasa, atau klausa yang sejajar.

Contoh: Hati ini biru, Hati ini lagu, Hati ini debu.

Tautologi: Pengulangan kata dengan menggunakan sinonimnya.

Contoh: Mengapa Anda cemas dan gelisah begitu?

Sigmatisme: Pengulangan bunyi “s” untuk efek tertentu.

Contoh: Kutulis surat ini kala hujan gerimis. (Salah satu kutipan puisi W.S. Rendra)

Antanaklasis: Menggunakan perulangan kata yang sama, tetapi dengan makna yang berlainan.

Contoh: Tanggal-tanggal yang tanggal itu kini tinggal berapa?

Klimaks: Pemaparan pikiran atau hal secara berturut-turut dari yang sederhana/kurang penting meningkat kepada hal yang kompleks/lebih penting.

Contoh: Baik rakyat kecil, kalangan menengah, maupun kalangan atas berbondong-bondong menuju ke TPS untuk memenuhi hak suara mereka.

Antiklimaks: Pemaparan pikiran atau hal secara berturut-turut dari yang kompleks/lebih penting menurun kepada hal yang sederhana/kurang penting.

Contoh: Jangan seribu atau seratus, serupiah pun aku tak punya.

Inversi: Menyebutkan terlebih dahulu predikat dalam suatu kalimat sebelum subjeknya.

Contoh: Dikejar oleh Anna kupu-kupu itu dengan begitu gembira.

Retoris: Ungkapan pertanyaan yang jawabannya telah terkandung di dalam pertanyaan tersebut.

Contoh: Siapakah yang tidak ingin hidup?

Elipsis: Penghilangan satu atau beberapa unsur kalimat, yang dalam susunan normal unsur tersebut seharusnya ada.

Contoh: Kami ke rumah Kakek (predikat “pergi” dihilangkan).

Koreksio: Ungkapan dengan menyebutkan hal-hal yang dianggap keliru atau kurang tepat, kemudian disebutkan maksud yang sesungguhnya.

Contoh: Sebenarnya sudah dua kali, ah bukan, sudah tiga kali hal itu saya usulkan.

Polisindenton: Pengungkapan suatu kalimat atau wacana, dihubungkan dengan kata penghubung.

Contoh: Ia benar-benar lupa dengan rumah dan ladangnya, istri dan anaknya, hak dan kewajibannya.

Asindeton: Pengungkapan suatu kalimat atau wacana tanpa kata penghubung.

Contoh: Presiden berjalan diiringi oleh para menteri, pejabat, alim ulama, tokoh masyarakat.

Interupsi: Ungkapan berupa penyisipan keterangan tambahan di antara unsur-unsur kalimat.

Contoh: Salah seorang mahasiswanya, yang saat itu diberi tugas menulis cerita pendek, menulis tentang seorang laki-laki yang tidak bisa melupakan cerita cinta pertamanya dan rela menunggu selama 51 tahun, 9 bulan, dan 4 hari untuk mendapatkannya lagi.

Eksklamasio: Ungkapan dengan menggunakan kata-kata seru.

Contoh: Wah, tidak kusangka, engkau dapat juga menjadi juara kelas.

Enumerasio: Ungkapan dengan menggunakan kata-kata seru.

Contoh: Laut tenang. Di atas permadani biru itu tampak satu-satunya perahu nelayan meluncur perlahan-lahan. Angin berhembus sepoi-sepoi. Bulan bersinar dengan terangnya. Disana-sini bintang-bintang gemerlapan. Semuanya berpadu membentuk suatu lukisan yang harmonis. Itulah keindahan sejati.

Preterito: Ungkapan penegasan dengan cara menyembunyikan maksud yang sebenarnya.

Contoh: Sudahlah, nasi sudah menjadi bubur, tidak perlu kita sesali apa yang terjadi.

Alonim: Penggunaan varian dari nama untuk menegaskan.

Contoh: Mamat varian dari Ahmad.

Kolokasi: Asosiasi tetap antara suatu kata dengan kata lain yang berdampingan dalam kalimat.

Contoh: Susah memang berurusan dengan si kepala batu. (“Kepala Batu” asosiasi tetap “Kepala” dan “Batu”).

Silepsis: Penggunaan satu kata yang mempunyai lebih dari satu makna dan yang berfungsi dalam lebih dari satu konstruksi sintaksis.

Contoh: Ia telah kehilangan topi dan semangatnya.

Zeugma: Silepsi dengan menggunakan kata yang tidak logis dan tidak gramatis untuk konstruksi sintaksis yang kedua, sehingga menjadi kalimat yang rancu.

Contoh: Perlu saya ingatkan, Kakek saya itu peramah dan juga pemarah.

Jumlah jenis-jenis pada majas pertentangan sama dengan jumlah majas sindiran, jenis-jenisnya sangat sedikit, hanya ada 5, dan mudah sekali untuk diingat. Diantaranya adalah :

Paradoks: Pengungkapan dengan menyatakan dua hal yang seolah-olah bertentangan, namun sebenarnya keduanya benar.

Contoh: Di tengah-tengah terpaan angin puting beliung hatinya tetap tenang.

Oksimoron: Paradoks dalam satu frasa.

Contoh: Selalu ada kemudahan dalam kesulitan akan suatu perjuangan.

Antitesis: Pengungkapan dengan menggunakan kata-kata yang berlawanan arti satu dengan yang lainnya.

Contoh: Hidup matinya manusia di tangan Tuhan.

Kontradiksi interminus: Pernyataan yang bersifat menyangkal yang telah disebutkan pada bagian sebelumnya.

Contoh: Harga semua beras naik 12%, kecuali beras roro jongrang.

Anakronisme: Ungkapan yang mengandung ketidaksesuaian dengan antara peristiwa dengan waktunya.

Contoh: Para musafir dari mekah mengandalkan kompas untuk menunjukan arah kiblat.

Nah, setelah selesai mempelajari dan memahami pengertian, macam-macam majas dan contohnya, seharusnya kamu dapat menjawab dengan mudah semua soal-soal pelajaran Bahasa Indonesia yang berkaitan dengan majas.

Baiklah, mari tes sejauh mana kamu sudah mengerti tentang macam-macam majas, melalui beberapa macam contoh soal majas yang biasanya muncul dalam ujian pelajaran Bahasa Indonesia.

Q: Alegori termasuk jenis majas apa ?

A: Ya, Alegori adalah salah satu jenis atau macam majas perbandingan.

Q: Telinganya telah tuli terhadap teriakan-teriakan rakyat, termasuk jenis majas ?

A: Ya, kalimat tersebut adalah salah satu jenis majas pertentangan, yaitu majas paradoks.

Q: Ironi, Sarkasme, Sinisme, Innuendo, adalah jenis majas ?

A: Ya, semua itu adalah jenis-jenis majas yang tergolong ke dalam majas sindiran.

Q: Apa pengertian dari majas sarkasme ?

A: Ya, Sarkasme adalah jenis majas sindiran langsung dan ketus.

Q: Alegori, paradoks, antitesis, anakronisme, manakah yang bukan merupakan jenis majas pertentangan ?

A: Ya, jawabannya adalah Alegori.

Wah ternyata, kamu dapat menjawab semua soal-soal di atas, luar biasa !!. Sekarang saya yakin bahwa kamu sudah benar-benar memahami dengan baik mengenai pengertian, macam-macam majas dan contohnya.

Sebagai penutup, berikut saya kutipkan puisi terbaik karya Khalil Gibran yang mengandung atau menggunakan majas perbandingan jenis metafora. Sangat indah sekali maknanya jika dibaca hingga selesai.

7 Alasan Mencela Diriku

Puisi majas metafora ditulis oleh : Khalil Gibran

Tujuh kali aku pernah mencela jiwaku,

pertama kali ketika aku melihatnya lemah,

padahal seharusnya ia bisa kuat.

Kedua kali ketika melihatnya berjalan terjongket-jongket

dihadapan orang yang lumpuh

Ketiga kali ketika berhadapan dengan pilihan yang sulit dan mudah

ia memilih yang mudah

Keempat kalinya, ketika ia melakukan kesalahan dan cuba menghibur diri

dengan mengatakan bahawa semua orang juga melakukan kesalahan

Kelima kali, ia menghindar kerana takut, lalu mengatakannya sebagai sabar

Keenam kali, ketika ia mengejek kepada seraut wajah buruk

padahal ia tahu, bahawa wajah itu adalah salah satu topeng yang sering ia pakai

Dan ketujuh, ketika ia menyanyikan lagu pujian dan menganggap itu sebagai suatu yang bermanfaat

Masih tertarik untuk belajar pengertian majas ? silahkan baca dan pahami lebih banyak macam-macam majas lengkap beserta contohnya melalui wikipedia.

Tinggalkan komentar

error: Content is protected !!