Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Widget HTML #1

Biografi Singkat Abdul Muis dalam Bahasa Inggris dan Artinya


Abdul Muis adalah salah satu tokoh penting dalam sejarah Indonesia. Ia dikenal sebagai sastrawan, politikus, dan wartawan yang berperan aktif dalam pergerakan kemerdekaan Indonesia. Ia juga merupakan Pahlawan Nasional pertama yang ditetapkan oleh Presiden Soekarno pada 30 Agustus 1945.

Abdul Muis lahir di Bukittinggi, Sumatra Barat, pada 3 Juli 1886. Ia adalah putra dari Datuk Tumangguang Sutan Sulaiman, seorang tokoh masyarakat Minangkabau yang menentang penjajahan Belanda. Abdul Muis memiliki kemampuan berbahasa Belanda yang sangat baik, sehingga ia bisa bekerja sebagai klerk di departemen pendidikan Belanda. Namun, ia tidak betah dengan pekerjaannya dan memilih menjadi wartawan. Ia bergabung dengan majalah Bintang Hindia dan Neraca, yang dipimpin oleh Haji Agus Salim, seorang tokoh Islam moderat. Abdul Muis juga aktif dalam organisasi Sarekat Islam, yang merupakan gerakan nasionalis pertama di Indonesia. Ia menjadi anggota Volksraad, dewan perwakilan rakyat yang dibentuk oleh pemerintah kolonial, dan menyuarakan aspirasi rakyat Indonesia. Ia juga terlibat dalam perundingan-perundingan dengan pihak Belanda untuk menuntut kemerdekaan Indonesia.

Abdul Muis meninggal dunia di Bandung pada 17 Juni 1959, dalam usia 76 tahun. Ia dimakamkan di Taman Pahlawan Cikutra, Bandung. Ia meninggalkan warisan berupa karya-karya sastra dan perjuangan politik yang menginspirasi generasi-generasi selanjutnya. Ia dihormati sebagai salah satu bapak bangsa Indonesia yang berjasa dalam memperjuangkan kemerdekaan dan kebudayaan Indonesia.

Biografi Singkat Abdul Muis dalam Bahasa Inggris dan Artinya


Abdul Muis was an Indonesian writer, politician, and journalist who was born in Bukittinggi, West Sumatra, on July 3, 1886. He was the son of Datuk Tumangguang Sutan Sulaiman, a Minangkabau community leader who opposed Dutch colonialism. Abdul Muis had excellent Dutch language skills, so he could work as a clerk in the Dutch education department. However, he was not satisfied with his job and chose to become a journalist. He joined the magazines Bintang Hindia and Neraca, which were led by Haji Agus Salim, a moderate Islamic leader. Abdul Muis was also active in the Sarekat Islam organization, which was the first nationalist movement in Indonesia. He became a member of the Volksraad, the representative council formed by the colonial government, and voiced the aspirations of the Indonesian people. He was also involved in negotiations with the Dutch side to demand Indonesia’s independence. In addition, Abdul Muis was also known as a writer who wrote several novels, short stories, and essays. His most famous novel was Salah Asuhan, which raised the theme of cultural conflict between East and West. Abdul Muis died in Bandung on June 17, 1959, at the age of 76. He was buried in the Cikutra Heroes’ Park, Bandung. On August 30, 1959, he was designated as the first National Hero by President Soekarno.

Terjemahan

Abdul Muis adalah seorang sastrawan, politikus, dan wartawan Indonesia yang lahir di Bukittinggi, Sumatera Barat, pada 3 Juli 1886. Dia merupakan putra dari Datuk Tumangguang Sutan Sulaiman, seorang tokoh masyarakat Minangkabau yang menentang penjajahan Belanda. Abdul Muis memiliki kemampuan berbahasa Belanda yang sangat baik, sehingga dia bisa bekerja sebagai klerk di departemen pendidikan Belanda. Namun, dia tidak betah dengan pekerjaannya dan memilih menjadi wartawan. Dia bergabung dengan majalah Bintang Hindia dan Neraca, yang dipimpin oleh Haji Agus Salim, seorang tokoh Islam moderat. Abdul Muis juga aktif dalam organisasi Sarekat Islam, yang merupakan gerakan nasionalis pertama di Indonesia. Dia menjadi anggota Volksraad, dewan perwakilan rakyat yang dibentuk oleh pemerintah kolonial, dan menyuarakan aspirasi rakyat Indonesia. Dia juga terlibat dalam perundingan-perundingan dengan pihak Belanda untuk menuntut kemerdekaan Indonesia. Selain itu, Abdul Muis juga dikenal sebagai seorang sastrawan yang menulis beberapa novel, cerpen, dan esai. Novelnya yang paling terkenal adalah Salah Asuhan, yang mengangkat tema konflik budaya antara Timur dan Barat. Abdul Muis meninggal dunia di Bandung pada 17 Juni 1959, dalam usia 76 tahun. Dia dimakamkan di Taman Pahlawan Cikutra, Bandung. Pada 30 Agustus 1959, dia ditetapkan sebagai Pahlawan Nasional pertama oleh Presiden Soekarno.